Krisis Listrik, Laba Hotel di Medan Tergerus

Pemadaman listrik yang makin sering terjadi di Sumatra Utara menyebabkan tergerunya laba hotel di Medan hingga 15 persen sebulan terakhir. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Sumut Layari Sinukaban mengatakan seringnya pemadaman listrik di Sumatra Utara mengakibatkan banyak kerugian yang diderita oleh pengusaha hotel. Tidak hanya kerugian materil, tetapi juga kerugian imateril harus ditanggung pengelola hotel.

" Dalam jangka pendek pendapatan anjlok 15 persen. Untuk jangka panjang akan semakin besar karena perlu tamnbahan biaya promosi yang cukup mahal untuk mendatangkan tamu, terutama dari luar negeri," ujarnya kepada Bisnis, Rabu 16 Oktober 2013.

Pendapatan tersebut menurun terutama diakibatkan oleh kerugian jangka pendek yang diderita perhotelan. Untuk mengatasi byar-pet, pengusaha hotel haru menyediakan genset yang menggunakan bahan bakar solor nonsubsidi seharga Rp 9.000 perliter.

Rata-rata pemadaman di Sumatra Utara terjadi hingga tiga kali sehari dan diperkirakan menambah biaya bahan bakar minyak (BBM) yang cukup besar. Pemadaman listrik juga berakibat pada kerusakan peralatan hotel dan restoran terutama bagi peralatan sensitif listrik.

PHRI mencatat setidaknya peralatan seperti pendingin udara (AC), kulkas, komputer, lift, hingga lampu, mengalami kerusakan di setiap hotel. Hal itu membuat biaya perbaikan dan pengadaan kembali peralatan tersebut membengkak.

Layari menambahkan dalam jangka panjang, pemadaman listrik yang kian sering dapat membuat kerugian secara moral. Pasalnya, informasi terjadinya krisis listrik di Sumut telah menyebar hingga ke luar negeri.

Dampak beruntun dari pemadaman listrik itu, sambungnya, akan terasa dalam jangka yang cukup panjang. Akibatnya tingkat hunian hotel di Sumatra Utara semakin menurun karena listrik merupakan salah satu kebutuhan terpenting bagi konsumen hotel yang didominasi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Debi Nelson, GM Madani Hotel Medan, mengaku kecewa dengan adanya pemadaman listrik di Medan. Kerugian terbesar bagi pengusaha jasa adalah ketidaksenangan pelanggan yang menginap di hotel akibat sering pemadaman listrik.
Manajemen Madani Hotel, sejauh ini menyediakan genset untuk menunjang operasional. Namun, pengadaan genset dan biaya untuk mengoperasionalkan genset juga terhitung cukup besar.

BBM untuk mengoperasikan genset, sambungnya, biasanya cukup membeli 2 bulan sekali. Saat intensitas pemadaman semakin sering, dia harus membeli BBM hingga tiga kali sebulan.

Dedi harus merogoh kocek hingg Rp 45 juta untuk membeli bahan bakar solar setiap bulan. Adapun genset yang dioperasikan manajemen hotel Madani sebanyak dua unit dengan harga Rp 1,7 miliar.

Cindy Lailany, Public Relations Officer Hotel Aston  Medan , mengakui pemadaman listrik memang sudah mulai berkurang pada pekan terakhir dibandingkan sebelumnya. "Kami menyediakan genset sebanyak tiga unit, masing-masing kapasitas sebesar 1,250 kVA. Perubahan biaya operasional sejak pemadaman tidak begitu signifikan dan hanya disesuaikan dengan biaya solar yang diperlukan," katanya.


Sumber Media Cetak : Bisnis INdonesia, 17 Oktober 2013.
Note: Berkurangnya tingkat hunian di Medan dapat memberikan dampak negatif juga kepada bisnis rental mobil Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekilas Info