BI Lakukan Sosialisasi Keaslian Rupiah Ke Masyarakat Samosir

Guna meminimalisasi peredaran uang palsu di sejumlah daerah, Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan IX Sumatra Utara dan Aceh melakukan sosialisasi keaslian uang Rupiah kepada masyarakat di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.
Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari guru dan pelajar SMU/SMK di Kabupaten tersebut turut hadir dalam sosialisasi tersebut.

"Sosialisasi ini kami lakukan untuk meminimalisir peredaran uang palsu, khususnya di Kabupaten Samosir ini. Tak hanya itu, kami juga memberikan informasi terkait keaslian mata uang Rupiah yang harus ditingkatkan, karena pengetahuan masyarakat disini akan keaslian Rupiah sangat kurang," kata Deputi Bank Indonesia Perwakilan IX Sumatra Utara dan Aceh, Dewi Setyowati dihadapan peserta kegiatan Sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah di Kabupaten Samosir, Jumat 16/11.

Dijelaskan informasi ini sedini mungkin harus disampaikan kepada masyarakat, mulai dari anak sekolah, guru dan warga sekitar. Sebab, peredaran uang palsu kerap terjadi dimana saja, yakni di tempat keramaian hingga di pusat pasar. Menurutnya sosialisasi yang dilakukan pihaknya tersebut akan memberikan penjelasan tentang cara membedakan uang Rupiah asli dengan yang tidak asli. Hal itu dikarenakan kebanyak masyarakat selama ini cukup sulit membedakan antara uang asli dengan uang palsu.

"Dipilihnya Kabupaten Samosir sebagai tempat sosialisasi ini, karena dianggap sebagai satu daerah yang rawan terhadap peredaran uang palsu. Tak hanya itu, daerah ini juga perekonomiannya bergerak maju khususnya di sektor jasa," jelasnya.

Lebih lanjut, Dewi menambahkan, sosialisasi tersebut dilakukan dengan cara memperkenalkan menggunakan sistem 3D yaitu Dilihat, Diraba dan Diterawang. Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk menjaga Rupiah layaknya masyarakat Eropa yang menjaga mata yangnya seperti Dolar dengan baik.
"BI sudah berupaya agar uang Rupiah sulit dipalsukan yaitu dengan cara selalu melakukan inovasi terhadap disain, penggunaan tinta yang khusus dilakukan, namun masih ada pihak lain yang mencoba memalsukannya," tambahnya.

Sementara Deputi Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Perwakilan IX Sumut dan Aceh, Kahfi Zulkarnaen mengungkapkan pihaknya juga sedang melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait penggunaan uang non tunai. Hal itu bertujuan agar peredaran uang palsu akan berkurang dan peredaran yang kartal juga mengecil dan lebih efisien.
Pada Juli 2013, pihaknya juga menghimpun uang palsu sebanyak 262 lembar. Dari jumlah itu, uang palsu yang banyak ditemukan adalah uang palsu pecahan Rp 50.000,- sebanyak 184 lembar, pecahan Rp 100.000,- sebanyak 61 lembar.

Selain itu, ada juga uang palsu pecahan Rp 20.000,- yang jumlahnya 13 lembar dan pecahan Rp 10.000,- dengan 3 lembar. "Sejak Januari sampai Juli 2013, BI sudah mengumpulkan uang palsu 2.278 lembar. Adapun pecahan yang paling banyak masih pecahan Rp 50.000 dengan jumlah 1.643 lembar dan pecahan Rp 100.000 (506 lembar). Saat ini jumlahnya sudah mulai berkurang jika dibandingkan tahun lalu. Kami juga sedang menggiatkan pembayaran dengan sistem non tunai dan diharapkan sosialisasi ke daerah ini tepat sasaran," ungkapnya.

Asisten Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Pusat, Gusti Syafruddin mengaku sangat senang, karena masyarakat di Kabupaten Samosir cukup antusias dengan sosialisasi ini. Bahkan, sejumlah pelajar yang ikut serta dapat mengerti dan ke depannya bisa menginformasikannya kepada keluarga dan juga warga setempat.


Sumber Media Cetak : Analisa, 19 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekilas Info